MAKASSAR– Toraja dianugerahi keindahan panorama alam dari Yang Maha Kuasa. Masyarakatnya yang masih memegang teguh warisan budaya dari leluhur menjadikan Toraja juga kaya akan keunikan seni budaya yang tidak ditemui di tempat lain menjadikan orang Toraja yang merantau senantiasa rindu kampung halaman.
Hal ini yang menjadi inspirasi koreografer Nur Asma Syukur dalam menggarap karya tari terbarunya berjudul Toraya Mamali’ produksi Lembaga Seni Budaya Batara Gowa. Tarian ini rencananya akan tampil perdana pada kegiatan Festival Societeit de Harmonie malam ini (senin 26/6) di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan.
“Meskipun sebuah karya baru namun unsur-unsur kesenian tradisional menjadi elemen utama dalam karya ini diantaranya Pagellu, tarian klasik masyarakat Toraja” ungkap Nur Asma yang akrab disapa Oshine.
“Kami melibatkan seniman-seniman muda sebagai penari yang telah dibekali pelatihan tari dalam program Dancing to Connect yang diadakan oleh Battery Dance New York bekerjasama Lembaga Seni Budaya Batara Gowa” tambah koreografer yang pada november kemarin sukses menggelar karyanya di Bucharest, Rumania.
Festival Societeit de Harmonie yang mengambil tema “Dalam jejak waktu: dulu, kini, dan akan datang” merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan melalui UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie. Kegiatan ini menampilkan talkshow dan pertunjukan kesenian dengan penyaji yang terdiri dari grup kesenian se-Sulawesi Selatan.
Judul Karya: Toraya Mamali’
Koreografer: Nur Asma Syukur
Penanggung jawab Produksi dan Penata Kostum: Sri Indrayanti, S.Pd
Penata Musik: Ancu Batara
Artistik: Andi Redo
Penari:
1. Marwah Attahira Mansyur
2. Khusnul Fatimah
3. Andi Magfirah Khaerani
4. Dea Ananda Pratiwi
5. Annisa
6. Fitri Gio
7. Muh. Hasrullah
9. Alfian Saputra
Pemusik:
1. Miranda Dwi Ramadhani
2. Muh. Aditya
3. Muh. Muhaimin
4.Muh. Riswandhy
5. Muhaimin Abbas
6. Haeruddin Ahar







