Opera Lebonna Pukau Pengunjung Hari Tari Dunia 2023

MAKASSAR – Pementasan Opera Lebonna sukses memukau penonton yang hadir di Lapangan Bakti Rantepao, Toraja Utara dalam rangkaian Hari Tari Dunia Toraya Ma’Gellu 2023, Rabu (28/6) yangengambil tema “Toraja Bercerita”. Pementasan berdurasi 45 menit itu berhasil mengajak mereka yang hadir ”melompat” ke Toraja di masa lampau.

Meski masih dalam format pementasan outdoor, koreografi yang apik diiringi nyanyian dan musik dari instrumen etnik Toraja yang penuh harmoni,  sastra kuno Tominaa yang dipakai sebagai narasi, hingga artistik panggung betul-betul menghadirkan suasana Toraja berabad-abad silam meski panggung berada di tengah-tengah lokasi Lapangan Bakti Rantepao.

Read More


Opera yang dibawah arahan produser Ir. Sriyanti Irene Pailang ini menampilkan kisah cinta yang terinspirasi dari cerita rakyat Toraja Massudilalong Sola Lebonna dalam beberapa babak.

Dimulai dari Prolog yang menampilkan khazanah budaya Toraja dalam berbagai adegan termasuk aktivitas keseharian masyarakat Toraja seperti Pa’kambi Tedong, Pa’pangngan, To Mekopi atau pemetik Kopi. Dilanjutkan kemunculan tokoh Lebonna, gadis tercantik di kampung yang telah menolak lamaran berbagai pria hingga pada suatu saat rakyat di kampung mengadakan upacara Rambu Tuka’ dimana momen ini mempertemukan dirinya dengan panglima tampan nan gagah berani Massudilalong Paerengan. Keduanya pun saling jatuh hati hingga mengikrarkan janji sehidup semati bahkan matipun harus dalam satu liang kubur.

Babak-babak berikutnya menampilkan kesetiaan dan cinta mereka yang harus diuji karena terpisah dua dunia dimana Lebonna meregang nyawa karena bunuh diri setelah mendengar Paerengan tewas di medan perang. Paerengan yang larut dalam kesedihan dikejutkan oleh kabar dari Dodeng, abdi setianya yang mengatakan dirinya bertemu arwah Lebonna yang menuntut janji Paerengan atas ikrar sehidup semati mereka. Hingga pada akhirnya Paerengan pun memilih untuk menyusul sang kekasih dengan lompat ke atas tombak pasukannya.

Respon penonton sangat antusias dilihat dari jumlah penonton yang memadati panggung bahkan sebagian besar memilih untuk berdiri sepanjang pertunjukan karena sudah tidak kebagian kursi. Penonton turut larut dalam pertunjukan, dalam setiap adegan bahkan terlihat reaksi dari penonton. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf RI, Ni Made Ayu Marthini, Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Ouadia Benabdellah, Anggota DPD RI, Lily Amelia Salurapa, Rektor UPH Jonathan L. Parapak  dan Wakil Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.

Sutradara dan penulis skenario pementasan Andi Redo menuturkan bahwa dirinya mendapat tantangan tersendiri ketika didapuk oleh sang produser untuk mengangkat cerita rakyat Massudilalong Sola Lebonna ke dalam sebuah panggung pertunjukan.

“Masyarakat Toraja adalah masyarakat yang memegang teguh adat istiadatnya dengan baik, sehingga pada proses pengkaryaan dan kreatif dalam mengangkat cerita ini menjadi sebuah pertunjukan opera kami senantiasa melakukan riset yang mendalam sehingga tetap mempertahankan beberapa bentuk budaya asli Toraja meski karya ini digarap secara kontemporer” ungkap Andi Redo yang beberapa waktu lalu telah mementaskan karyanya di Bucharest, Romania.

Pelakon Opera Lebonna berjumlah 25 orang. Mereka yang terpilih merupakan pemain yang dikurasi sejak juli lalu. ”Faktanya, mereka adalah talent-talent yang masih muda namun berpengalaman. Diantaranya bahkan telah ikut pertunjukan kami di Sala Dalles, Bucharet november kemarin” ujar Andi Redo. Meski begitu, mereka berhasil memainkan peran masing-masing dengan sempurna

Sementara itu, penata gerak Opera Lebonna Nur Asma Syukur menyampaikan bahwa koreografi yang ditampilkan dalam pertunjukan ini terinspirasi dari tarian diantaranya Pagellu, Ma’randing, Ma’dandan serta upacara adat Rambu Solo. Nur Asma yang juga menjadi penata kostum Opera Lebonna ini membuat seluruh kostum tersebut secara detail dengan tetap menjaga identitas Toraja mulai pemilihan bahan hingga motif dan warna. Tampilannya semakin apik dengan set pangging dan tata cahaya dari Sukma Silanan

Musik Opera Lebonna sebagian besar menggunakan instrumen etnik Toraja termasuk efek suara yang memperkuat adegan. Lagu dan syair dinyanyikan dengan baik oleh penyanyi dan tokoh pemeran Lebonna. Turut dihadirkan pula Maestro Tominaa Marten Ballak, sastra tutur asli Toraja yang memperkuat iringan opera. Musik ditata oleh Maestro Basri B. Sila yang juga menjadi konsultan dan musisi pada Opera I La Galigo karya sutradara kenamaan dunia, Robert Wilson dimana karya tersebut telah sukses berkeliling dunia pentas di berbagai panggung internasional.

Dalam karya Opera Lebonna ini Lembaga Seni Budaya Batara Gowa melibatkan seniman-seniman dari Toraja dan Makassar yang tergabung dalam komunitas dan sanggar diantaranya, Kampung Seni Baruga Kaluarrang, Sanggar Seni Pusaka Arts, PenariMakassar Performing Art, dan Umaya Bajubodo Ethnics


“Sebagai putri asli Toraja dan dengan disasarkan kecintaan terhadap kebudayaan Toraja sehingga saya bersama Batara Gowa memiliki misi memperkenalkan kekayaan seni budaya Toraja hingga ke panggung dunia melalui Opera Lebonna ini” ungkap Yanti Pailang yang juga dikenal sebagai Ketua DPC Perempuan Indonesia Maju Kab. Tana Toraja.

“Kita harapkan doa dan dukungan terkhusus masyarakat Toraja dan Sulawesi Selatan. Semoga karya kami ini dapat mengharumkan nama Toraja, Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia secara global” tutupnya. (**)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *